• +6282182610809
  • smpit@baitulizzah.sch.id
  • Jl. Indragiri No.2 Padang Harapan Kec. Gading Cempaka Kota Bengkulu
News
KECANDUAN INTERNET PADA ANAK SAMA BAHAYA NYA DENGAN KECANDUAN NA*****KA !!!

KECANDUAN INTERNET PADA ANAK SAMA BAHAYA NYA DENGAN KECANDUAN NA*****KA !!!


Di Lansir dari Kompas.id Pendidikan dan Kebudayaan — bahwa Gawai dan internet sudah jadi kebutuhan dalam aktivitas keseharian kita, termasuk anak-anak. Namun, penggunaan gawai dan internet berlebih bisa menimbulkan kecanduan yang berdampak buruk pada kesehatan.

Penggunaan gawai dan internet semakin intens di masa pandemi Covid-19. Waktu yang dihabiskan anak-anak untuk menggunakan gawai pun semakin meningkat dari untuk belajar hingga hiburan. Akan tetapi, di sisi lain penggunaan gawai yang sudah semakin jadi kebutuhan hidup sehari-hari dikhawatirkan dapat menimbulkan kecanduan internet pada anak.

Sayangnya, sering kali orangtua mempertanyakan kemungkinan terjadinya adiksi gawai dan meragukan bahwa kecanduan internet punya dampak yang dahsyat pada anak. Malah terkadang, orangtua sendiri tanpa sadar memfasilitasi anak-anak mereka dengan gawai dan aksesorinya dengan alasan agar tidak tertinggal di era disrupsi teknologi digital sekarang.

”Ada lho, orangtua yang bilang. Dokter, tidak apa-apa anak saya kecanduan gawai daripada kecanduan narkoba, kan, lebih berbahaya,” kata ahli Adiksi Perilaku dan Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM Kristiana Siste dalam acara peluncuran ”Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak (Jagoan)” yang digelar Yayasan Sejiwa, Sabtu (2/10/2021).

Yayasan Sejiwa meluncurkan Gerakan Jagoan didukung Kementerian Komunikasi dan Informatika, SiberKreasi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta 47 mitra seluruh Indonesia. ”Kami ingin menyelamatkan anak-anak Indonesia dari kecanduan gawai yang saat ini kondisinya sudah sangat kritis,” ujar pendiri Yayasan Sejiwa, Diena Haryana.

Diena berharap gerakan ini dapat melahirkan generasi yang unggul dan tangguh. ”Kita punya janji untuk menjaga Indonesia. Tugas kita adalah meyakinkan bahwa para penerus kita adalah sosok-sosok yang unggul dan tangguh menjadi bangsa besar menuju Indonesia maju. Kita punya tanggung jawab besar untuk mengatasi adiksi gawai ini bersama-sama,” kata Diena.

Menurut Siste, orang dengan kecanduan internet mengalami perubahan di otaknya, yaitu konektivitas fungsional otak antara area parietal lateral dan korteks prefrontal lateral menurun. Akibatnya, orang tersebut sulit membuat keputusan, sulit konsentrasi dan fokus, pengendalian diri buruk, prestasi menurun, penurunan kapasitas proses memori, serta kognisi sosial negatif.

Jika dampak kecanduan itu tidak segera diobati bisa terjadi demesia di usia dini. Jika dewasa, memori jadi terganggu, tidak bsa mengendalikan diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat. Pada akhirnya, mereka tidak tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat mental dan fisik. Fungsi otaknya akan mengalami banyak gangguan. Dampak lainnya adalah obesitas, gangguan mata, kelelahan, agresif , merasa kesepian sangat kuat, serta hubungan dengan teman dan orangtuanya terganggu.

”Dampaknya sama, adiksi internet dan adiksi narkoba merusak otak. Penelitian 2019, pada remaja yang adiksi internet, kerusakan otaknya ada. Adiksi internet juga menghabiskan uang besar untuk paket data ataupun games online. Ada pasien remaja yang juga sampai mengambil uang orangtuanya hingga puluhuan juta. Mirip dampaknya dengan narkoba,” ujar Siste.

Dari penelitian yang dilakukan Siste dan tim pada tahun 2019 di Jakarta, 31,4 persen remaja kecanduan internet. Penggunaan internet lebih dari 20 jam per minggu dilakukan 67,2 remaja dan 96,9 persen mengakses melalui telepon pintar (smartphone), serta 91,1 persen mengaksesnya di rumah. Akibatnya, 56,3 persen remaja memiliki masalah perilaku dan 48,2 persen memiliki masalah depresi.

Pada masa pandemi Covid-19, kecanduan internet justru semakin tinggi. Internet menjadi hiburan yang paling menyenangkan di rumah saat mobilitas di luar rumah dibatasi. Pada awal 2020 ketika pandemi berlangsung, riset dilakukan melibatkan 3.000 partisipan remaja, 5.000 partisipan dewasa muda dari 34 provinsi. Hasilnya, adiksi internet pada remaja 19,3 persen atau 1 dari 5 remaja kecanduan internet. Waktu yang dihabiskan memainkan gawai daring atau screen time naik dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam atau naik 59 persen.

Adiksi internet pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Anak laki-laki lebih banyak memainkan gim daring, sedangkan perempuan lebih banyak berselancar di media sosial.

”Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian semua orang, baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga masyarakat, sekolah, orangtua, maupun remaja dan dewasa muda itu sendiri. Hal ini harus diintervensi segera karena kecanduan internet menimbulkan dampak negatif bagi otak, fisik, kesehatan jiwa, dan sosial,” ujar  Siste.

Menurut Siste, untuk mencegah kecanduan internet pada remaja, penggunanan internet untuk hiburan tidak boleh lebih dari 3 jam per hari. Kalau dijumlah dengan kebutuhan akademik dan hiburan, penggunaan internet tidak boleh lebih dari 11 jam per hari.

”Lebih dari itu ada risiko kecanduan. Ini bisa jadi pegangan bagi orangtua dan guru. Di masa pembelajaran jarak jauh, guru harus bisa mengatur pembelajaran daring dan juga penugasan yang menggunakan daring dengan terkontrol dan sehat sesuai jumlah waktu maksimal paparan tiap hari,” kata Siste.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *